Sabtu, 14 September 2013

BAHAYA LIDAH







"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ada kisah menarik yang disampaikan Ibnu Katsir dalam menjelaskan asbabun nuzul Surah Al-Hujurat ayat 6. Kisah ini pernah dialami isteri Rasulullah SAW, Aisyah r.a, di bulan Sya'ban tahun kelima hijriyah.

Saat itu, Aisyah r.a, mengalami kegelisahan luar biasa akibat fitnah yang disebarkan oleh kaum munafik di Madinah. Isunya pun tidak main-main. Isteri Rasul SAW yang mulia ini dikabarkan telah berselingkuh dengan seorang sahabat Rasul yang bernama Shafwan.

Fakta-fakta pun terangkai dan tertata apik, seolah isu itu memang benar-benar terjadi. Mulai dari tidak tahunya sang suami, Rasulullah SAW, kalau Aisyah tidak pulang bersamanya dari suatu tempat dalam sebuah peperangan di Bani Musthaliq. Hingga, Aisyah r.a yang tiba-tiba datang berdua dengan seorang pemuda ganteng. Itulah dia Shafwan Ibnu Mu'aththal.

Dengan cara apa lagi Aisyah r.a menjelaskan kalau dirinya tidak seperti yang diisukan, padahal tidak ada seorang saksi pun kecuali mereka berdua. Fitnah pun merebak begitu subur dan meluas di seantero Madinah.

Kalau saja bukan karena firman Allah SWT yang menegaskan kesucian Aisyah, mungkin fitnah tersebut akan menjadi petaka besar bagi dakwah Islam saat itu.

Firman Allah SWT, "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Jangan kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan ia baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barang siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula).” (QS An Nur: 11)

Demikian dahsyatnya bahaya lidah (Afatul Lisan). Ketajaman lidah jauh melebihi pisau dan pedang sekalipun. Karena, sekali ia beraksi dan berjalan, maka korbannya tidak hanya satu atau dua orang saja, melainkan bisa seluruh kampung, daerah, negara, bahkan jamaah sekali pun.

Islam mengajarkan kita untuk selalu berhati-hati dengan ucapan. "Siapa yang banyak bicara maka banyak pula salahnya. Siapa yang banyak salahnya, banyak pula dosanya. Dan, siapa yang banyak dosanya, maka api neraka lebih utama baginya." (HR Athabrani)

"Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan), niscaya aku menjamin baginya surga." (HR Bukhari)

DUNIA INI HANYALAH PERUMPAMAAN AKHIRAT







Bismillahirrohmanirrahim

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan negeri akhirat itu sebagai tempat pembalasan hamba-hambaNya yang beriman. Karena sesungguhnya dunia ini tidak memuat apa yang Allah menghendaki untuk membalas mereka. Karena pemberianNya terlalu tinggi bila dibalas di dunia yang fana ini”

Wahai saudaraku, pernahkah kita berdoa kepada Allah, dengan segala sesuatu yang kita ingini dalam hati. Terkadang kita menginginkan doa tersebut disegerakan untuk dikabulkan. Namun kita lupa bahwa Allah lebih mengetahui apa yang sesungguhnya terbaik untuk kita. Bukankah akan lebih mulia jika doa kita tadi dikabulkan oleh Allah diakhirat ??. Ketahuilah, bahwa Allah tidak akan menetapkan segala sesuatu bagi hambaNya kecuali dengan kebaikan bagi kita, dan Allah lebih mengetahui sedangkan kita tidak mengetahui. Dan Firman Allah dalam surat Al Baqoroh ayat 216 yang isinya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Wahai saudaraku, dunia ini memiliki dua sisi yang bertolak belakang yaitu sisi yang menyenangkan dan sisi yang menyedihkan. Sesuatu yang menyenangkan adalah ketika kita mendapatkan kenikmatan, segala keinginan tercapai, jalan-jalan di taman yang kita lalui menjadi indah bagaikan menjadi raja dalam sekejap. Sedangkan kesedihan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, membuat pikiran gelisah, rasa bersalah, terhimpit kekurangan pangan, terancam kenyamanan dan keamanan diri, melihat sesuatu yang tidak disukai dan sebagainya. Namun sebesar apa pun nikmat yang diberikan Allah kepada kita, nikmat itu tidak akan pernah terasa jikalau hati kita tidak diliputi rasa syukur kepada Sang Maha Pemberi Rahmat. Bukan karena sedikitnya nikmat yang kita peroleh, akan tetapi lantaran begitu besarnya nikmat itu sehingga tak ada satu pun dari apa yang kita usahakan yang terlepas darinya. Ibarat seekor kutu di atas punggung seekor gajah.


Tidak sedikit orang yang dikaruniakan kekayaan, kesehatan, kelapangan riski yang merasa sempit hati lantaran dengki melihat tetangganya mendapatkan nikmat. Ada pula yang orang-orang sengaja mendramatisasi kehidupannya sehingga hidupnya tampak sangat menderita, padahal semua yang ditangisinya hanyalah tak lebih dari fantasi yang tidak pernah terjadi. Ketahuilah bahwa Allah tidak pernah mendzolimi hambanya, tetapi merekalah yang mendzolimi diri mereka sendiri.

Ada sebuah cerita seorang ibu yang mempunyai dua orang anak. Anak pertama mencari riski dengan menyewakan payung kepada pejalan kaki ketika hujan. Sedangkan anak yang kedua mencari riski dengan menjual es ketika panas terik matahari menyengat. Dua anak ini adalah tulang punggung keluarga bagi sang ibu. Namun sepanjang tahun sang ibu terlihat murung. Kesedihan selalu meliputinya seakan tanpa henti. Seseorang bertanya kepada ibu tadi perihal kesedihannya. Sang ibu menjawab, “Pada saat hujan, aku sedih lantaran dagangan es anak keduaku tidak laku sedangkan ketika panas terik akupun sedih lantaran usaha anak pertamaku menyewakan payung tidak laku.lalu dari mana kami bisa mencukupi kebutuhan keluarga”. Alangkah arif jika sang ibu tadi bersyukur ketika hujan lantaran payung yang disewakan anak pertamanya laku, dan bersyukur ketika panas lantaran es yang dijual anak keduanya laku. Tidak akan ada kesedihan, yang ada hanyalah rasa syukur terhadap pemberian Allah SWT. Dan Allah berjanji akan menambahkan nikmat yang diberikanNya.

Labels

Entri Populer